Jumat, 25 November 2011

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA GURU MATEMATIKA DALAM PELAKSANAAN KBK PADA SMA KOTA PALEMB

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA GURU MATEMATIKA DALAM PELAKSANAAN
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI ( KBK )
PADA SEKOLAH MENENGAH ATAS KOTA PALEMBANG


Yuliani Indrawati
Alumni Magister Manajemen Universitas Sriwijaya

ABSTRACT

This research was related to the factors affecting the mathematics teachers’ performance in applying the Competence Based Curriculum at high schools in Palembang. The factors investigated covered the components of knowledge/ability, skills, and motivation. This research was aimed at : 1) investigating the effect of knowledge/ability, skills, and motivation toward the performance of mathematics teachers, 2) investigating the most dominant factor affecting the performance of mathematics teachers. The method used was causality method. The number of sample used was 66 mathematic teachers from 7 state-owned high schools and 13 private high schools in Palembang. The data collected in this research were primarily through questionnaires. The data were analyzed through linear regression analysis model. The research findings showed that simultaneously components of knowledge/ability (X1), skills (X2), and motivation (X3) affected significantly the performance of mathematics teachers (Y) of high schools in Palembang in which R = 0.491 and R2 = 0.241. The most dominan factor toward the performance of mathematics teachers was the component of motivation. The results of this research were based on the developments of Gibson theory (Ability/knowledge, Skills, and Performance) and MC Clelland Theory (Motivation).

Keywords : Knowledge/Ability, Skills, Motivation, Performance

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pendidikan di Indonesia belum seperti yang diharapkan, karena lembaga lembaga pendidikan belum mampu menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Bahkan pendidikan nasional pun dinilai gagal membangun karakter bangsa. Hal ini terbukti dari rendahnya nilai hasil ujian nasional, terutama nilai bidang studi matematika. Padahal matematika adalah bidang studi yang mendasari semua disiplin ilmu.
Berdasarkan data Institute of Education (2003), hasil penelitian statistik yang dilakukan secara internasional dalam Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) menunjukan bahwa Indonesia pada peringkat ke-34 dari 45 negara untuk penguasaan pelajaran di bidang matematika. Score Indonesia (411) masih berada di bawah Singapura (605) dan Malaysia (508), tetapi tetap berada di atas Filipina (378).
Menurut Zulkardi (2003:2), dua masalah utama dalam pendidikan matematika di Indonesia adalah rendahnya prestasi siswa (rendahnya daya saing siswa diajang Internasional dan rendahnya nilai rata-rata EBTANAS murni nasional khususnya matematika) serta kurangnya minat mereka dalam belajar matematika (matematika dianggap sulit dan diajarkan dengan metode yang tidak menarik karena guru menerangkan, sedangkan siswa hanya mencatat). Diduga, pendekatan pembelajaran matematika di Indonesia masih menggunakan pendekatan tradisional atau mekanistik. Yang menekankan pada latihan mengerjakan soal atau drill and practice, prosedur serta penggunaan rumus. Siswa kurang terbiasa memecahkan masalah atau aplikasi yang banyak di sekeliling mereka. Sementara itu banyak negara telah mereformasi sistim pendidikan matematika dari pendekatan tradisional ke arah aplication based curricular, yaitu mendekatkan matematika ke alam nyata bagi siswa melalui aplikasi atau masalah kontekstual yang bermakna serta proses yang membangun sikap siswa ke arah yang positif tentang matematika.
Sebagai contoh : Jepang menggunakan “open indeed approach” pendekatan yang menekankan pada soal aplikasi yang memungkinkan banyak solusi dan strategi. United State of America (USA) dengan standar yang dibuat National Council of Teache Mathematics (NCTM), yakni standar yang terkenal dengan lima keterampilan prosesnya yaitu matematika adalah ‘communication’, ’reasoning’, ’connection’, ’problem solving’, dan ‘understanding’; Belanda mengembangkan ‘RealisticMathematics Education (RME)’ sejak 1970. Pendekatan yang dilakukan oleh ketiga negara tersebut relatif hampir sama seperti: penekanan pada materi aplikasi atau kehidupan sehari-hari, fokus pada keaktifan siswa (student-centered), serta penekanan pada soal yang mempunyai variasi strategi dan solusi. Atas pertimbangan berhasilnya negara-negara lain dalam meningkatkan mutu pembelajaran matematika, maka pemerintahan Indonesia sejak tahun 1998 mulai mempersiapkan perubahan Kurikulum 1994 menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Secara konseptual, Kurikulum 1994 berbasis pencapaian tujuan (Objective Based Curriculum) dan Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (Competency Based Curriculum ) Maksudnya, pendidikan diarahkan untuk membentuk pribadi anak sebagai individu yang mempunyai potensi, bakat yang berbeda dan bervariasi sehingga perlu perhatian yang berbeda dan pengalaman hidup anak adalah modal yang penting dalam pembelajaran. Secara sederhana kompetensi dimaksudkan sebagai perangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk mengerjakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak yang dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar siswa dan indikatornya dapat diukur dan diamati.
Dalam pembelajaran matematika, kemampuan berpikir kritis, sistematis, logis, kreatif sangat diperlukan untuk pencapaian kecakapan hidup yang ingin dicapai oleh Kurikulum Berbasis Kompetensi dan mampu dilakukan siswa setelah melalui proses pembelajaran.
Adapun ciri–ciri Kurikulum Berbasis Kompetensi menurut Nurhadi (2004:18) adalah: (a) Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun secara klasikal; (b) Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman; (c) Pencapaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi; (d) Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif; (e) Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya mencapai suatu kompetensi.
Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Depdiknas (2003:2) mengusulkan dua agenda perbaikan antara lain, perbaikan guru dan fasilitas belajar. Perbaikan kualitas guru penting untuk perbaikan transfer pengetahuan terhadap siswa. Sedangkan perbaikan fasilitas belajar perlu diperhatikan agar tidak terjadi jurang yang terlalu lebar antara kualitas pendidikan siswa Indonesia dengan negara lain.
Menurut Nurhadi (2004:12-13) dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi guru harus mempunyai kualifikasi dan kompetensi khusus untuk menunjang pencapaian kompetensi lulusan pada satuan pendidikan. Tercapainya tujuan pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi di atas sangat ditentukan oleh kinerja guru yang baik sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan Nasional dan secara khusus pembelajaran matematika.
Menurut Gibson yang dikutip oleh Ilyas (1999:57) untuk mencapai kinerja yang baik ada tiga kelompok variabel yang mempengaruhi perilaku kerja dan kinerja yaitu:
· Pertama, variabel individu, yang meliputi: Kemampuan dan keterampilan; Latar belakang keluarga, tingkat sosial, pengalaman, umur, etnis, jenis kelamin;
· Kedua, variable organisasi, yang mencakup antara lain: Sumber daya; Kepemimpinan; Imbalan; Struktur; Desain pekerjaan;
· Ketiga, variabel psikologis, yang meliputi: Presepsi; Sikap; Kepribadian; Belajar; Motivasi.
Berdasarkan prinsip–prinsip pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi, maka variabel–variabel yang berkaitan langsung dengan perilaku dan kinerja guru, khususnya guru matematika adalah variabel individu: kemampuan/pengetahuan dan keterampilan dan variabel psikologis: motivasi.
Gambar 1
Diagram Skematis Latar Belakang Penelitian






Photobucket

1.2 Perumusan Masalah
1. Apakah factor pengetahuan/kemampuan, ketrampilan dan motivasi mempengaruhi kinerja guru matematika dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi di Sekolah Menengah Atas Kota Palembang?
2. Seberapa besar pengaruh faktor–faktor tersebut terhadap kinerja guru matematika dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi di Sekolah Menengah Atas Kota Palembang

1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh kemampuan/pengetahuan, keterampilan, dan motivasi terhadap kinerja guru matematika dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi di Sekolah Menengah Atas Kota Palembang.
2. Untuk mengetahui faktor–faktor yang paling dominan mempengaruhi kinerja guru matematika dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi di Sekolah Menengah Atas Kota Palembang.

1.4. Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan masukan untuk referensi penelitian yang lebih lanjut.
2. Untuk menambah wawasan peneliti dalam mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama ini.
3. Sebagai masukan bagi Sekolah Menengah Atas kota Palembang dalam upaya meningkatkan kinerja guru matematika.
4. Sebagai masukan bagi Dinas Pendidikan Kota Palembang dalam rangka peningkatan mutu pendidikan matematika.





II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kurikulum
Kurikulum dalam arti sempit diartikan sebagai kumpulan berbagai mata pelajaran yang diberikan kepada peserta didik melalui kegiatan yang dinamakan proses belajar.

2.2. Kompetensi Dan Kurikulum Berbasis Kompetensi
Mulyasa, (2004:37-38) mendefinisikan kompetensi sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku– perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik dengan sebaik–baiknya.
Pendidikan berbasis kompetensi, menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan pada suatu jenjang pendidikan tertentu, agar mampu berkompetensi sampai dengan tingkat global

2.3. Kinerja Guru
Menurut Ilyas (1999: 112), kinerja adalah penampilan hasil karya personel baik kuantitas maupun kualitas dalam suatu organisasi dan merupakan penampilan individu maupun kelompok kerja personil. Deskripsi dari kinerja menyangkut 3 komponen penting yaitu : (1) Tujuan: Penentuan tujuan dari setiap unit organisasi merupakan strategi yang digunakan untuk meningkatkan kerja.; (2) Ukuran: Dibutuhkan ukuran apakah seorang personel telah mencapai kinerja yang diharapkan, untuk itu kuantitatif dan kualitatif standar kinerja untuk setiap tugas dan jabatan personel memegang peranan penting; (3) Penilaian: Penilaian kinerja secara reguler yang dikaitkan dengan proses pencapaian tujuan kinerja setiap personel. Pengertian kinerja dengan deskripsi tujuan, ukuran operasional, dan penilaian regular mempunyai peran penting dalam merawat dan meningkatkan motivasi personel.
Illyas (1999: 56) juga berpendapat bahwa tenaga profesional adalah sumber daya terbaik suatu organisasi sehingga evaluasi kinerja mereka menjadi salah satu variabel yang penting bagi efektifitas organisasi.Dalam pendidikan, sangatlah penting untuk memiliki instrumen penilaian kinerja yang efektif bagi tenaga kerja profesional yang menjadi bagian terpenting dalam upaya manajemen untuk meningkatkan kinerja organisasi yang efektif.
Menurut teori Gibson yang dikutip oleh Illyas (1999: 55-58), ada tiga kelompok variabel yang mempengaruhi perilaku kerja dan kinerja yaitu: variabel individu, variabel organisasi dan variabel psikologis. Diagram skematis variabel yang mempengaruhi perilaku dan kinerja seperti pada gambar 2.

Gambar 2
Diagram Skematis Teori Perilaku dan Kinerja dari Gibson

Photobucket


Variabel individu dikelompokkan pada sub-variabel kemampuan dan ketrampilan, latar belakang dan demografis. Sub-variabel kemampuan dan ketrampilan merupakan faktor utama yang mempengaruhi perilaku dan kinerja individu. Variabel demografis, mempunyai efek tidak langsung pada perilaku dan kinerja individu. Variabel psikologik terdiri dari sub-variabel persepsi, sikap, kepribadian, belajar, dan motivasi. Variabel ini banyak dipengaruhi oleh keluarga, tingkat sosial pengalaman kerja sebelumnya dan variabel demografis. Variabel psikologis seperti presepsi, sikap, kepribadian, dan belajar merupakan hal yang komplek dan sulit diukur. Variabel organisasi berefek tidak langsung terhadap perilaku dan kinerja individu. Variabel organisasi digolongkan dalam sub-variabel sumber daya, kepemimpinan, imbalan, struktur, dan desain pekerjaan.
Menurut Spencer and Spencer yang dikutip oleh Idawati (2004:5), ada lima jenis kompetensi, yaitu: Pertama, Knowledge. Ilmu yang dimiliki Individu dalam bidang pekerjaan atau area tertentu; Kedua, Skill. Kemampuan untuk unjuk kinerja fisik ataupun mental; Ketiga, Self Concept. Sikap Individu, nilai – nilai yang dianut citra diri, Keempat Traits. Karakteristik fisik dan respon yang konsisten atas situasi atau informasi tertentu; Kelima, Motives. Pemikiran atau niat dasar konstan dan mendorong individu untuk bertindak atau berperilaku tertentu. Skill dan knowledge seringkali disebut sebagai hard competence, sedangkan kompetensi self concept, traits dan motives disebut soft competence.
Terdapat kesamaan antara teori Gibson dan pendapat dari Spencer and Spencer tentang faktor utama yang mempengaruhi kinerja individu berkaitan dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh individu, yaitu: kompetensi pengetahuan/kemampuan, kompetensi keterampilan atau keahlian dan kompetensi motivasi.

2.4. Dimensi Kompetensi pada Kinerja Guru dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi
2.4.1. Kemampuan (Pengetahuan) dan Ketrampilan
Kompetensi dimensinya sangat luas.Menurut Nurhadi (2004:15) Kompetensi merupakan pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten dalam arti memiliki pengetahuan,ketrampilan dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu. Sedangkan pengetahuan (knowledge) adalah Ilmu yang dimiliki Individu dalam bidang pekerjaan, dalam hal ini individunya adalah guru sebagai tenaga profesional. Menurut Robbins (2001: 51-52), kemampuan adalah suatu kapasitas individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan.Dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi, kemampuan sangat diperlukan dalam menunjang pengetahuan yang dimiliki oleh seorang guru.

Gambar 3
Prestasi tergantung pada Kombinasi yang tepat dari usaha, kemampuan dan keterampilan.
Photobucket

Ketrampilan adalah kapasitas khusus untuk memanipulasi objek secara fisik. Prestasi tergantung kombinasi yang tepat dari usaha, kemampuan, dan ketrampilan. Psikolog pelopor Charles Spearman yang dikutip oleh Kinicki, Kreitner (2003:185-187) mengusulkan bahwa semua prestasi kognitif pertama digolongkan sebagai suatu kemampuan mental yang dibutuhkan untuk semua tugas kognitif, yang kedua tugas-tugas unik yang dilakukan.
Siagian (2003:127) berpendapat bahwa tingkat pendidikan dan pelatihan yang pernah diikuti mencerminkan kemampuan intelektual dan jenis keterampilan yang dimiliki oleh orang yang bersangkutan.

2.4.2. Motivasi
Motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individu.
Berikut ini adalah tiga teori spesifik yang merupakan penjelasan yang paling baik untuk motivasi karyawan yang dikutip oleh Robbins (2003:209-216) :
1. Teori Hierarki kebutuhan dari Abraham Maslow
Terdiri dari kebutuhan fisiologis, keamanan,sosial,penghargaan dan aktualisasi diri. Kebutuhan fisiologis, keamanan, social merupakan kebutuhan tingkat rendah (faktor eksternal) dan kebutuhan penghargaan, aktualisasi diri merupakan kebutuhan tingkat tinggi(faktor internal). Teori ini mengasumsikan bahwa orang berupaya memenuhi kebutuhan yang lebih pokok (psikologi) sebelum memenuhi kebutuhan yang tertinggi (aktualisasi diri)
2. Teori Dua Faktor
Dua faktor itu dinamakan faktor yang membuat orang merasa tidak puas dan faktor yang membuat orang merasa puas (Dissatisfier–Satisfier) atau faktor yang membuat orang merasa sehat dan faktor yang memotivasi orang (Hygiene–Motivators), atau faktor ekstrinsik dan intrinsik (Extrinsic
–Intrinsic).
3. Teori kebutuhan McClelland:
Mc Clelland memberikan tiga tingkatan kebutuhan tentang motivasi sebagai berikut : Kebutuhan akan prestasi (Need for Achievement ), afiliasi (Need for Affiliation). kekuasaan (Need for Power)
2.5. Kerangka Konseptual Penelitian
Gambar 4
Kerangka Konseptual Penelitian

Photobucket

Variabel bebas : Kemampuan/Pengetahuan (X1), Ketrampilan (X2), Motivasi (X3). Variabel terikat : Kinerja Guru (Y)

2.6. Hipotesa Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, maka ditetapkan hipotesa dalam penelitian ini adalah Faktor–faktor kemampuan/pengetahuan, keterampilan, motivasi berpengaruh terhadap kinerja guru matematika dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di Sekolah Menengah Atas Kota Palembang.





III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kausalitas yang menggunakan teknik analisis regresi berganda untuk melihat secara langsung pengaruh beberapa variabel bebas terhadap variabel terikat .

3.2. Definisi Operasional Variabel
3.2.1 Komponen Kemampuan/Pengetahuan (X1) dengan sub-sub komponen sebagai berikut
- Landasan pendidikan (X1a)
- Kebijakan pendidikan (X1b)
- Perkembangan siswa (X1c)
- Pendekatan pembelajaran (X1d)
- Kerjasama dalam pekerjaan(X1e)
- Kemajuan IPTEK (X1f)
3.2.2. Komponen Keterampilan (X2) dengan sub-sub komponen sebagai berikut :
- Rencana Pembelajaran (X2a)
- Pembelajaran (X2b)
- Menilai prestasi belajar (X2c)
- Tindak lanjut penilaian (X2d)
3.2.3. Komponen Motivasi (X3) dengan sub-sub komponen sebagai berikut :
- Prestasi (X3a)
- Afiliasi (X3b)
- Kekuasaan(X3c)
3.2.4. Komponen Kinerja Guru (Y) dengan sub-sub komponen sebagai berikut :
- Pencapaian kompetensi (Y1)
- Pelaksanaan tugas (Y2)
- Kualitas kerja (Y3)
- Tanggung jawab(Y4)
- Disiplin (Y5)
- Kejujuran (Y6)
- Loyalitas (Y7)
- Inisiatif (Y8)
- Kreatifitas (Y9)
- Kerjasama (Y10).

3.3. Pengukuran variabel
Dalam penelitian ini untuk menganalisa variabel digunakan skala Likert dengan lima tingkat penilaian, yaitu Sangat Setuju(SS), Setuju (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS). Skor yang diberikan mulai angka 5 untuk jawaban SS sampai dengan angka 1 untuk jawaban STS.

3.4. Populasi dan Sampel penelitian
Populasi terdiri dari seluruh guru matematika pada 20 SMA yang telah menerapkan KBK. Tehnik pengambilan sampel adalah purposive sampling yaitu dengan memilih guru-guru yang telah mengajar dengan menerapkan kurikulum berbasis kompetensi berjumlah 66. (KBK diterapkan sampai kelas 2 SMA/Kelas XI SMA, kecuali 5 SMA yang telah melaksanakan uji coba KBK sejak tahun pelajaran 2003/2004, KBK telah diterapkan sampai kelas 3 SMA/kelas XII SMA).

3.5. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada 7 SMA Negeri dan 13 SMA Swasta di kota Palembang pada bulan yaitu : Oktober 2005 - Nopember 2005.

3.6. Metode Pengumpulan Data
1. Data primer diperoleh melalui penelitian lapangan dengan cara penyebaran daftar pertanyaan (kuesioner) kepada responden untuk diisi dan dikembalikan pada peneliti sesuai dengan waktu yang ditetapkan.
2. Data sekunder yang dibutuhkan berupa data penunjang seperti latar belakang pendidikan guru yang bersangkutan, umur, lama bekerja dan hasil wawancara dengan Kepala Sekolah.

3.7. Teknik Analisis Data
Teknik analisa data (pengolahan data dibantu dengan Program SPSS 11,5 ) dengan menggunakan analisis regresi berganda sebagai berikut:
Y = a + b1X1+ b2X2+ b3X3
Dimana :
Y = Kinerja guru matematika (variabel terikat/dependent variabel)
X1 = Kemampuan (pengetahuan), (variabel bebas/independent variabel) X2 = Ketrampilan (variabel bebas/independent variabel)
X3 = Motivasi (variabel bebas/independent variabel)
a = konstanta
b1, b2, b3,b4 = Koefisien Signifikasi regresi diuji dengan t test pada alpha 0,05






IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1. Karateristik Responden

Tabel 1
Karakteristik Responden

Photobucket

Masih ada responden yang berpendidikan D3 4,54% dan S1 Non Matematika 7,58%. 21,21% responden berpengalaman dibawah 4 tahun dan 36,36% responden berpengalaman lebih dari 15 tahun; 27,27% responden belum pernah mengikuti pelatihan dan hanya 9,09% yang pernah mengikuti pelatihan lebih dari 4 kali. Hal ini menunjukkan kurangnya pelatihan yang diikuti guru–guru matematika.

4.2. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Berdasarkan hasil uji validitas terlihat bahwa seluruh pertanyaan pada masing–masing item kuesioner valid, karena nilai r hitung > r tabel (r tabel = 0,2042)
Tabel 2
Hasil Uji Validitas
Photobucket
Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa nilai alpha dari masing–masing komponen > 0,6 dan dapat dikatakan data tersebut reliabel.
4.3. Persentase Jawaban Responden

Gambar 5
Persentase Jawaban Responden
Photobucket
Photobucket

Secara keseluruhan presentase jawaban responden untuk komponen– komponen pengetahuan/kemampuan (X1), ketrampilan (X2), motivasi (X3), dan kinerja guru (Y) didominasi jawaban setuju (S) dan sangat setuju (SS), hal ini menunjukkan bahwa responden menerima variabel–variabel untuk masing– masing komponen sebagai tuntutan dalam penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam pembelajaran mata pelajaran matematika di sekolah menengah atas.



4.4. Analisis Korelasi
Untuk mengetahui hubungan variabel–variabel bebas (Kemampuan/ Pengetahuan, Ketrampilan, Motivasi) terhadap variabel terikat (Kinerja Guru) digunakan analisis regresi linear.
Tabel 3
Regresi
Photobucket

Dari ouput korelasi, hubungan yang paling signifikan hanya terjadi antara variabel motivasi (X3) dengan variabel Kinerja Guru (Y) karena nilai signifikansi (Sig I-tailed) =0,000<0,05
Hubungan variabel bebas yang paling kuat dengan kinerja guru adalah variabel motivasi sebesar 0,443. Hubungan antar variabel bebas yang paling kuat adalah variabel pengetahuan/kemampuan dengan variabel ketrampilan sebesar 0,728. Dari tabel 3 diperoleh persamaan regresi sebagai berikut :

Y = 20,001 + 0,302X1 – 0,89X2 + 0,391X3

Konstanta sebesar 20,001 menyatakan bahwa jika tidak ada kemampuan/ pengetahuan, ketrampilan & motivasi guru (secara matematika X1, X2, X3 adalah 0) maka kinerja guru hanya 20,001. Koefisien regresi X1 sebesar + 0,302 menyatakan bahwa setiap penambahan pengetahuan seorang guru akan meningkatkan kinerja guru. Koefisiensi regresi X2 sebesar –0,89 menyatakan bahwa keterampilan seorang guru tidak mempengaruhi peningkatan kinerja
guru. Koefisiensi regresi X3 sebesar + 0,391 menyatakan bahwa semakin meningkat motivasi seorang guru akan meningkatkan kinerja guru. Nilai sig/significance dari faktor pengetahuan (X1)= 0,060 >0,05 maka Ho diterima, atau ternyata faktor pengetahuan guru tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja guru matematika. Nilai sig/significance untuk faktor ketrampilan = 0,200>0,05 sehingga Ho diterima atau ternyata faktor ketrampilan guru tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja guru matematika, nilai sig/significance untuk motivasi = 0,005< 0,05 maka Ho ditolak atau faktor motivasi berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja guru matematika. Secara parsial (hasil uji t) hanya faktor motivasi saja yang berpengaruh terhadap kinerja guru matematika.

Tabel 4
Regresi

Photobucket


R square = 0.241 yang disesuaikan dengan Adjusted R Square = 0,205 artinya sekitar 20,5% variabel terikat kinerja guru dapat ditentukan oleh variabel bebas yaitu Pengetahuan/ Kemampuan (X1), Variabel Ketrampilan (X2), Variabel Motivasi (X3) sedangkan sisanya 79,5% ditentukan oleh variabel–variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
Dari uji Anova atau F test, diperoleh F hitung = 6,599 dengan tingkat signifikans 0,001<0,05.artinya Pengetahuan/Kemampuan, Ketrampilan, Motivasi secara bersama–sama berpengaruh terhadap kinerja guru matematika.
Hipotesis dari penelitian ini menyatakan “Faktor-faktor pengetahuan/ kemampuan, ketrampilan dan motivasi berpengaruh terhadap kinerja guru Matematika dalam pelaksanaan KBK di SMA kota Palembang” tidak terbukti kebenarannya dan hipotesis ditolak karena hanya variabel motivasi saja yang berpengaruh.






V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

1. Hasil uji F menunjukkan bahwa Faktor–faktor pengetahuan, ketrampilan, motivasi secara simultan berpengaruh sebesar 20,5% terhadap kinerja guru matematika, sisanya 79,5% dipengaruhi oleh faktor–faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
2. Faktor sikap, inisiatif, kreatifitas, inovasi sangat mendukung keberhasilan pelaksanaan KBK karena pendekatan dan metode yang digunakan beragam, bersifat kontektual dan guru bukan satu-satunya sumber ilmu pengetahuan.
3. Hasil uji parsial (t–test) menunjukkan hanya variabel motivasi yang berpengaruh terhadap kinerja guru sedangkan variabel kemampuan/ pengetahuan dan variable ketrampilan tidak berpengaruh. Hal ini menunjukkan rendahnya kompetensi guru matematika di Kota Palembang dan berakibat rendahnya prestasi siswa.
4. Masih banyak guru matematika yang belum memahami karateristik pembelajaran dengan sistem KBK, belum mengubah pola pembelajaran matematika dari “teacher-oriented” ke “student-oriented”.
5. Latar belakang pendidikan tidak sesuai dan guru tidak terpanggil untuk menjadi pendidik dan pengajar sehingga kurang berupaya untuk melakukan perubahan ke arah perbaikan sistem pembelajaran matematika sebagai wujud tanggung jawab terhadap perbaikan mutu pendidikan matematika.
6. Diperlukan manajemen sekolah yang bertanggung jawab dan Kepala Sekolah yang memiliki kemampuan dan ketrampilan serta memahami karateristik KBK yang diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan pembelajaran Matematika.

5.2. Saran

1. Perlu peningkatan pengetahuan/kemampuan, ketrampilan dan pemberian motivasi pada guru matematika oleh Departemen Pendidikan Nasional Kota Palembang maupun pihak sekolah masing–masing melalui penyelenggaraan diklat, pembinaan dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) secara berkelanjutan.
2. Perlu diadakan uji kompetensi guru untuk mengetahui kelayakan guru khususnya sebagai guru matematika.
3. Dalam seleksi penerimaan guru matematika untuk yang akan datang harus melalui prosedur yang benar, bebas KKN, latar belakang pendidikan sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki, memiliki kemampuan sesuai dengan tuntutan standar kompetensi guru, agar prestasi siswa mampu bersaing di tingkat internasional dan dapat memperbaiki kualitas SDM Indonesia.
4. Perlu adanya pengembangan penelitian lebih lanjut dengan variabel lain yang mendukung dalam pelaksanaan KBK khusus untuk pembelajaran Matematika misalnya: faktor sikap, inisiatif, kreatifitas, inovasi dan lainnya.






Daftar Pustaka

BPTP DISDIK, 2003, “Standar Kompetensi Guru Bagian: Komponen Pengelolaan Pembelajaran dan Wawasan Kependidikan dan Komponen Pengembangan Profesi”, Diknas Jawa Barat.

Christina, E, 2004, “Pengaruh Kompetensi Terhadap Tenaga Pengajar di SMK Swakarya Palembang”, tidak dipublikasikan, Universitas Sriwijaya , Palembang.

Fahlevi, R., 2003, “Seminar Kurikulum Berbasis Kompetensi”, Dinas Pendidikan Nasional Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.

Idawati, D, 2004, “Pemimpin Yang Sukses”, Edisi No.17/Maret, PPM Graduate School of Management, Jakarta

Ilyas, Y., 1999, “Kinerja”, Cetakan pertama, Penerbit: Badan Penerbit FKM UI, Depok.

Institute of Education Sciences NCES (National Center for Education Statistic) Washington, 2003. Http://nces.ed.go v/timss/results O3

Kinicki, A., Kreitner, R., 2003, “Perilaku Organisasi”, Edisi Pertama, Penerbit: Salemba Empat, Jakarta.

Kwartolo, Y., 2002, Jurnal Pendidikan Penabur: “Catatan Kritis tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi” Edisi no.1/Maret, BPK Penabur, Jakarta. http://www1.bpkpenabur.or.id/jurnal/01/075-085.pdf

Mulyasa, 2004, “Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, dan Implementasi”, Cetakan keenam, Penerbit: PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Nurhadi, 2004, “Kurikulum 2004 Pertanyaan & Jawaban”, Cetakan
Pertama, Penerbit: PT Grasindo, Anggota IKAPI, Jakarta.

Puskur, Depdiknas, 2002. “Kurikulum berbasis Kompetensi”, Jakarta Pusat

Puskur, Balitbang Depdiknas, 2002. “Pengembangan Silabus Kurikulum
Berbasis Kompetensi”, Jakarta Pusat

Robbins, P., S., 2003, “Perilaku Organisasi”, Edisi Indonesia Jilid 1, Penerbit: PT Indeks, gramedia Grup, Jakarta.

Reiger, Robert C, Stang, Judith, Fall 2000, Education Journal: “Management and motivation: An analysis of productivity in education and the workplace”, Pleasantville High School, New Jersey 08232.

Sukardi, 2003, “Metodologi Penelitian Pendidikan”, Cetakan pertama, Penerbit: PT Bumi Aksara, Jakarta.

Umaedi, 2002, “Pendekatan Kontekstual”, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

Umaedi, Zamroni, 2001, “Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah”, Depdiknas, Jakarta.

Umar, H., 2002, “Metode Riset Bisnis”, Cetakan pertama, Penerbit: PT Gramedia, Jakarta

Zamroni, 2004, “Pedoman Umum Pengembangan Silabus”, Proyek
Peningkatan Mutu SMU, Propinsi Sumatera Selatan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Las series más vistas

Pengikut

Teman Rizma

Lainnya