Minggu, 12 Juni 2016

12 juni 2016

Minggu,12juni 2016
Mukai jam 7pagi sampai jam 1 siang aku tidur krn semalaman nggak bisa tidur. Malamnya kira-kira mulai jam setengah 8 aku mulai latihan berdiri lagi menggunakan prothase. Cukup lama dari biasanya. Aku mendengarkan musik.dari awal lagu sampai akhir lagu dengan durasi 4 menit. Berarti aku berdiri selama 4 menit. Aku mengulangi 3 kali. Kemudian istirahat minum dan makan gorengan. Duduk. 2jam sepertinya tadi istirahat ku. Dan aku mulai memakai prothase lagi. Baru sekali dengan durasi 5 menit berdiri. Hati ku sakit rasaya. Nyesek.
Aku lepaskan prothase. Duduk lagi. Ku lihat puntung paha kiri ku. Nanah yg keluar cukup banyak. Tiap aku bergerak lebih banyak pastilah keluar cairan nanah lebih banyak juga. Kenapa ya?
Ini pasti bekas pen yang dipasang itu, yang menyebabkan seperti ada lubang diabtara daging saat itu. Namun 2 hari saja lubang itu sudah tertutup daging lagi. Tetap saja menjadi sebuah teka teki oleh perawat yang membersihkan luka ku di rumah. Dan ketika luka semua sudah menutup dengan bagus,bagian yang tadinya membentuk sebuah lubang kecil itu masih basah. Mungkin sebenarnya itu belum tertutup sempurna. Mungkin.
Menurut ku sih,seperti itu. Dn sekarang,bekas lubang itulah yg masih tetap terbuka dan mengeluarkan nanah.
Jangan tanya kenapa aku tidak ke dokter. Aku sendiri yang tidak mau. Aku sudah menyetop segala obat sejak mas adek mendiamkan ku.
Semua sakit yang aku rasa. Aku menikmatinya tanpa meminum obat. Setiap konsultasi aku selalu 'im fine' supaya semua cepat selesai. Supaya aku segera diijinkan untuk membuat prothase. Luka memang masih sangat kecil tetapi masih mengeluarkan nanah. Jika luka dibuka,maka nanah akan kering,menutup. Tapi bisa dipastikan seminggu kemudian bekas luka mulai membengkak. Itu adalah cairan nanah yang terjebak. Dokter disini entah bagaimana,sejak awal tidak meyakinkan. Entah kurang pintar atau kasus ku memang jarang sekali terjadi. Apalagi di kabupaten kecil seperti disini. Cukup aku tersenyum dan berbohong ketika menjawab pertanyaan dari dokter. Mereka menganggap ku membaik dan tak apa. Hebat bukan?
Jika saja dia memang sudah tidak menginginkan ku. Untuk apa aku berjuang hidup? Percuma. Aku akan terus berbohong mengenai kondisi ku, karena mas adek.
Menikmati segala hukuman atas perbuatan jahat ku. Seperti inikah yang dirasakan mas azwan kala itu? Dia diam saja menikmati rasa sakit tumor otaknya. Sampai akhirnya tidak dapat tertolong. Jika saja dia dari awal memeriksakannya,mengobatinya,berjuang untuk sembuh. Pasti tidak akan seperti ini hasilnya. Pasti aku masih bisa curhat dengan dia secara langsung, mendengarnya cerita yang aneh dan nggak jelas darinya. Curhatan misterius. Bukan dengan doa2 yang aku kirimkan dari sini.

0 komentar:

Poskan Komentar

Las series más vistas

Pengikut

Teman Rizma

Lainnya